Learning
Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label kabardesaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kabardesaku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Februari 2014

Muntahan Gunung Kelud Menjangkau Sumenep



Sumenep- Debu muntahan Gunung Kelud ternyata tidak hanya dirasakan oleh warga Kediri dan sekitarnya, namun juga dirasakan hingga di ujung timur pulau Madura. Hari ini Jum’at (14/02) warga Desa Pinggirpapas Kecamatan Kalianget Kabupaten Sumenep yang keluar rumah  dan mengendarai kendaraan bermotor banyak yang kelilipan debu halus. Awalnya mereka tidak menyadari bahwa itu abu yang berasal dari Gunung Kelud, mengingat jarak Gunung Kelud dengan desa mereka ratusan kilo meter. 

“Saya kira ini hanya kelilipan biasa, namun ternyata banyak yang mengalaminya”, ungkap Syamsu (48) warga Pinggirpapas yang saat itu sedang mengendarai motor untuk menghadiri acara pernikahan di Desa tetangga Marengan Kecamatan Kalianget. Debu tersebut juga terlihat jelas di lantai halaman Mesjid Al-Muqorrobin Pinggirpapas.

Sementara di kawasan Kota Sumenep Debu vulkanik Gunung Kelud cukup mengganggu aktifitas warga, sebagian pengendara kendaraan roda dua terlihat mengenakan masker. Langit Sumenep sepintas terlihat seperti mendung tebal. Selain mengganggu pernafasan debu halus ini juga terlihat menempel pada benda-benda diluar rumah seperti kaca sejumlah mobil yang diparkir di pinggir  jalan. (Abu)

Read More »
03.14 | 0 komentar

Jumat, 27 Desember 2013

Mahasiswa Sumenep Tuntut Transparansi CSR PT Garam



KBRN, Sumenep : Sejumlah Aktivis Mahasiswa Sumenep, Jawa Timur, Jum’at (13/12/2013) siang,  berunjuk rasa ke Kantor PT Garam, Jl. Raya Kalianget, Kecamatan Kalianget.
Mahasiswa yang tergabung dalam Kaukus Mahasiswa Sumekar (KMS) itu mempertanyakan realisasi dana Corporate Social Responcibility (CSR) dan tanggung jawab lingkungan atas dampak kegiatan produksi garam terhadap masyarakat sekitar lokasi pegaraman.
”Selama ini, program CSR termasuk Comunity Devlopment CD yang dicanangkan PT Garam belum terlaksana dengan baik, bahkan sangat mungkin sama sekali tidak dilaksanakan karena tidak dirasakan dampaknya oleh masyarakat,” ungkap Korlap Aksi KMS, Ahmad Zainullah.
Munurut Zainullah, program CSR dan  Comunity Devlopment (CD) PT Garam tidak transparan, bahkan perusahaan negara itu ditengarai tidak melaksanakan program kemitraannya dengan masyarakat. Sejauh ini, Keberadaan PT Garam belum memberikan efek positif terhadap perekonomian masyarakat, bahkan hanya memberikan dampak negatif salah satunya dengan membiarkan sampah plastik yang berserakan.
“Ini menjadi bukti bahwa PT Garam belum melakukan Bina Lingkungan, bahkan belum melakukan program kemitraannya terhadap masyarakat sekitar lokasi pegaraman,” kata Zainullah.
Semestinya, lanjut dia, PT Garam selaku perusahaan Negara memberi contoh terhadap perusahaan lainnya terutama dalam hal melaksanakan program kemitraan dengan masyarakat dan kepedulian lingkungan di sekitar pegaraman. Beberapa kali, pihaknya mendatangi PT garam baik audiensi maupun aksi menuntut transparansi CSR, CD dan program kemitraan dengan lingkungan sekitar, namun hanya mendapat jawaban normatif.
”Kami minta PT Garam memberikan data secara terbuka mengenai realisasi program program CSR dan CD mengingat data tersebut merupakan bagian dari informasi yang diperbolehkan untuk publik,” tuntutnya.
Sementara Humas PT Garam, Farid Zahid usai menemui perwakilan KMS membantah jika PT Garam tidak melaksanakan program CD, CSR, termasuk program kemitraan dan bina lingkungan. Program tersebut dipastikan sudah terealisasi, hanya saja, PT Garam tidak mungkin membeber data secara detik yang diminta mahasiswa itu kecuali inti atau pokok program tersebut.
”Laporan pelaksanaan CD, CSR dan lainnya sudah disampaikan pada pengawas dan pimpinan perusahaan, jadi tidak mungkin saya memberikan seperti yang diinginkan Mahasiswa,” kata Farid. (Faisal Warid/HF)

sumber : http://rri.co.id/index.php/berita/82182/Mahasiswa-Sumenep-Tuntut-Transparansi-CSR-PT-#.Ur4xuvs-_Fw

Read More »
18.33 | 0 komentar

Kamis, 05 Desember 2013

Nyadar Garam, Ritual Warga Pinggir Papas


Nyadar Garam, Ritual Warga Pinggir Papas

Liputan6.com, Sumenep: Tembang Layang Jati Suara Layang Sempurnaning Sembah mengalun pada suatu malam di Desa Pinggir Papas, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Nyanyian ini mengingatkan perjuangan seorang pangeran bernama Anggosuto, yang telah membawa perubahan besar yang membuat Madura terkenal sebagai Pulau Garam.Konon, di pulau terapung Pinggir Papas, Pangeran Anggosuto memulai kehidupannya dan menemukan butiran kristal dari air laut yang telah dibiarkannya berminggu-minggu. Butiran kristal yang kemudian disebut garam itu kemudian diolah sang pangeran sehingga menjadi sumber penghidupan. Inilah yang kemudian mengawali berdirinya tambak-tambak garam di Pulau Madura.
Waktu pun terus bergulir. Tradisi pembuatan garam rakyat terus dilakukan turun-temurun oleh warga Desa Pinggir Papas. Alhasil, ratusan kilogram garam setiap hari diproduksi para petani garam di desa ini. Dengan adanya mata pencaharian ini, warga Pinggir Papas bertambah makmur dan hidup dengan prestise material yang tinggi. Buktinya, haji-haji garam banyak bermunculan dan sarjana-sarjana yang memperoleh biaya pendidikan dari hasil garam lahir setiap tahun.
Meski kini Pinggir Papas telah berubah menjadi sebuah desa yang besar, jasa-jasa Pangeran Anggosuto yang telah membuka cakrawala kehidupan warga tidak dilupakan. Dan setiap tahun menjelang musim panen, warga Pinggir Papas memperingati jasa Anggosuto dalam sebuah upacara yang disebut Upacara Nyadar.
Sehari sebelum Upacara Nyadar, warga mulai sibuk dengan memotong ayam untuk sesaji dan mempersiapkan panjeng sebagai tempat sesajen serta menaruh berbagai perlengkapan sesaji lain di dalam panjeng. Keesokan harinya, kesibukan warga yang akan berangkat melaksanakan Nyadar sudah terlihat sejak dini hari. Dengan memikul tanggik sebagai tempat sesaji, mereka beriringan menuju ke makam Anggosuto. Seperti tradisi sebelumnya, tanggik tersebut dibawa terlebih dahulu ke lokasi sekitar makam Anggosuto, yang terletak di seberang laut di daratan Pulau Madura di Desa Kebun Dadap.
Seiring dengan itu, di sebuah sudut desa terlihat sekelompok orang yang biasa memimpin upacara berkumpul di rumah Mbah Kassa, sesepuh yang juga keturunan Anggasuto. Dari rumah itu, para sesepuh ini berjalan sejauh enam kilometer menuju pemakaman Anggosuto. Dalam perjalanan itu, sebuah pantangan mesti dilakukan para sesepuh, yakni menggunakan alas kaki.
Keberangkatan para sesepuh ini menandakan diperbolehkannya warga yang lain untuk menyusul. Sinar matahari terus beranjak dan tanpa terasa sore telah tiba. Warga yang akan ikut melaksanakan Nyadar terus berdatangan. Tak lupa mereka membawa kembang dan menyerahkannya kepada istri para sesepuh. Saat kembang-kembang telah disiapkan dan para sesepuh sudah berkumpul, waktu ziarah pun tiba.
Di depan pintu makam, warga berdesakan untuk bisa masuk terlebih dahulu ke makam. Akibatnya, kegaduhan terjadi saat juru kunci membuka pintu masuk makam. Adanya kepercayaan bahwa orang yang pertama masuk makam akan lebih dahulu mendapat berkah juga membuat suasana menjadi tambah kacau. Untungnya, kekacauan tak berlangsung lama. Warga kembali duduk dalam posisi tertib ketika doa dan tahlil mulai dibacakan. Selain makam Anggosuto dan istrinya, di kompleks pemakaman itu juga terdapat makam kerabat seperti Syekh Kabasa dan istri, Syekh Bangsa dan istri serta Mbah Dukun dan istri.
Entah bagaimana awalnya, keyakinan membacakan doa-doa bagi Anggosuto dan kerabatnya itu kemudian beralih menjadi sebuah ritual mistis. Semangat untuk meneladani Anggosuto yang telah membuka cakrawala kehidupan dengan memperkenalkan garam sebagai sumber kehidupan itu mulai diartikan beberapa warga sebagai sebuah ritual untuk meminta berkah. Bahkan, ada pula yang beranggapan ziarah ini akan memberi kekuatan mistis agar kehidupan mereka menjadi lebih baik di kemudian hari. Mereka juga meyakini bedak yang telah dicampur air dan diborehkan di belakang telinga atau dahi saat upacara berlangsung bisa menjadi tameng agar terhindar dari gangguan mahluk halus.
Menjelang matahari terbenam, peserta upacara mulai meninggalkan situs pemakaman Anggosuto. Namun, Upacara Nyadar belum berakhir. Malam harinya, warga Pinggir Papas masih harus menginap di sekitar makam Anggosuto untuk meneruskan prosesi lanjutan esok hari yang menjadi prosesi inti dari Upacara Nyadar, sebuah prosesi yang disebut sebagai Upacara Kaoman.
Seusai salat Subuh keesokan harinya, prosesi Kaoman pun dimulai. Ratusan tanggik berisi nasi tumpeng ditata rapi di sekitar makam. Penempatan tanggik disesuaikan dengan kelompok masing-masing. Dalam prosesi ini, ada dua kelompok sesepuh yang berbeda pendapat dalam menjalankan ritual Nyadar, yakni kelompok hitam dan putih yang dikenali dari ciri baju mereka.
Munculnya dua kelompok ini didasarkan polemik yang terjadi pada masa Kerajaan Sumenep. Konon, Raja Sumenep pernah melarang Upacara Nyadar ini. Tapi, kemudian timbul beberapa bencana penyakit di Sumenep. Atas nasihat para sesepuh kerajaan, Upacara Nyadar diadakan lagi. Dari sinilah kemudian muncul dua kelompok yang berbeda. Kelompok putih mewakili pemikiran atau tata cara lama seperti sebelum Nyadar dilarang dan kelompok hitam mewakili tata cara baru. Meski demikian, bentrokan tak pernah terjadi di antara dua kelompok ini.
Dengan kesadaran masing-masing, mereka pun mengatur agar Nyadar bisa dilakukan bersama-sama. Saat matahari naik sepenggalan, muncul empat orang yang berbaju warna-warni yang disebut Racok Saebu. Mereka bertugas menghitung jumlah panjeng yang ada dan melaporkannya ke pimpinan sesepuh yang disebut Juk Kae.
Puncak Nyadar pun dimulai. Para sesepuh berbaju hitam membuka langkah ritual dengan melakukan ziarah ke makam Anggosuto. Dua senjata warisan sang pangeran yang berupa keris dan kodik juga ikut dikeluarkan untuk menjaga di depan pintu makam. Tak lama kemudian giliran sesepuh berbaju putih masuk dan berdoa di makam.
Seusai ziarah dan pembacaan doa, kebersamaan antarkelompok pun dibangun. Tanggik berisi makanan dibuka dan doa kembali dilantunkan. Selanjutnya, mereka bersama-sama menyantap makanan dalam tanggik itu. Namun, warga tidak menghabiskan seluruh makanan. Sebagian lainnya dibawa pulang untuk dibagikan kepada fakir miskin, para anak yatim, dan tetangga yang tidak bisa mengikuti Nyadar.
Lengkap sudah warga Pinggir Papas menumpahkan kerinduan untuk mengucap syukur kepada sang penguasa Jagad Raya, yang telah memberi inspirasi kepada Anggosuto untuk membuka jalan kehidupan yang lebih baik di Pinggir Papas. Esok hari, mereka akan kembali menyusuri ladang-ladang garam untuk membawa kehidupan ke arah yang lebih baik seperti yang diharapkan sang Pangeran Anggosuto.(PIN/Tim Potret SCTV)

sumber : http://news.liputan6.com

Read More »
04.14 | 0 komentar

Sabtu, 23 November 2013

Jalan Sering Banjir, Warga Kalianget Datangi DPRD


  KBRN, Sumenep ; Sejumlah Warga Desa Karang Anyar dan Pinggir Papas Kecamatan Kalianget mendatangi DPRD Sumenep, Senin (3/6/2013) siang.
Mereka meminta Dewan menfasilitasi tuntutannya mengenai perbaikan akses jalan diwilayahnya yang kerap kali terendam banjir. Dalam audiensinya yang diterima Komisi C DPRD, warga dari dua desa itu menyampaikan tuntutannya terkait infrastruktur jalan yang dikeluhkan.

”Akses jalan yang menghubungkan Desa Karanganyar dan Pinggir Papas dengan Marengan Laok itu berdampingan dengan sungai. Apabila air pasang dan hujan deras meluap ke jalan, hingga akhirnya terjadinya banjir,” ungkap tokoh masyarakat Desa Pinggir Papas, Mahbub Ilahi di Kantor DPRD.
Mahbub menuturkan, selain rusak parah, kondisi jalan sepanjang 100 meter itu berada didataran rendah, bahkan berdampingan dengan sungai. Akibat kondisi tersebut, akses jalan warga itu rawan banjir, sehingga kerap kali tidak bisa dilewati khususnya bagi kuli angkut, buruh garam termasuk pelajar yang biasa melewati jalan tersebut.
”Makanya kami meminta agar Pemerintah daerah segera melakukan perbaikan sekaligus peninggihan jalan agar akses jalan warga di dua desa itu lebih lancar. Sebab jelas sangat mengganggu terhadap perekonomian masyarakat,” ujarnya.
Kepala Desa Karanganyar, Suharto Hadi usai audiensinya dengan Komisi C menambahkan, infrastruktur jalan Didesanya yang dikeluhkan warga sering diperbaiki. Namun, karena tidak ada peninggian, mudah rusak karena kerap kali terendam banjir.
Pihaknya meminta Komisi C mengakomudir keluhan warga, medesak instansi terkait seperti Dinas Pu Bina Marga termasuk Pu Pengairan melakukan perbaikan sekaligus peninggihan jalan.
”Kami sudah sampaikan, bahkan bahwa kondisinya berada dibawah sungai, sehingga kalau tidak ditinggikan akan banjir,” kata Suharto Hadi.
Sementara itu, Ketua Komisi C DPRD Sumenep, Fajar Hari Ponto mengaku siap mengakomudir tuntutan warga Desa Karang Anyar dan Pinggir Papas Kalianget.
“Komisi C masih perlu melakukan pengecekan ke lapangan sekaligus meminta tim tekhnis melakukan kajian mengenai penyebab terjadinya banjir,” pungkas Politisi asal Golkar ini. (Faisal/WDA)

sumber : rri.co.id

Read More »
15.33 | 0 komentar