bumigaramnews.- Musim kemarau yang tebilang cukup panjang pada tahun 2019
ini seharusnya membuat petani garam bahagia, namun tidak demikian halnya yang
dirasakan para petani garam khususnya di wilayah desa Karanganyar Kecamatan
Kalianget Kabupaten Sumenep. Pasalnya selain harga garam yang terus terjun
bebas hingga di level 350/kg kemarau kali ini juga diwarnai dengan kurangnya
pasokan air laut di beberapa titik lahan petani desa Karanganyar.
Salah satu petani garam Bayu Segoro menuturkan disekitar
lahan yang dia kelola sudah ada banyak petani yang berhenti bekerja lantaran
kehabisan air.
“Petani garam di daerah Karangnyar banyak yang menjerit karena
kehabisan air, ini akibat dua mesin pompa air milik PT. Garam sama-sama dioperasikan untuk menyedot air
laut, sehingga petani garam yang juga menggunakan saluran yang sama tidak
kebagian air laut tersebut.” Tutur Bayu Segoro, Jum'at ( 20/09/2019).
Selanjutnya Bayu Segoro
berharap agar petani garam lebih diperhatikan, terlebih lagi harga garam yang
sangat murah saat ini sudah membuat petani garam terpukul.
“Maka dari itu saya berharap kepada pihak PT. Garam untuk
memperhatikan masalah ini, selain garam harganya sangat murah dan sekarang ditambah
dengan kurangnya pasokan air, kami berharap pihak PT.Garam turun dan melihat
langsung kondisi tambak yang sudah berhenti beroperasi serta mencarikan jalan
keluarnya,” pungkasnya. ( Ed)



Posting Komentar