Rabu, 04 Februari 2015
Nasib Petani Garam di Rantau
Bumigaramnews - Musim kemarau yang mulai berakhir membuat harga garam ditingkat petani menurun, dari Rp 480.000/ton sekarang turun menjadi Rp 330.000/ton.
Buruh petani garam yang kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah pun hanya bisa pasrah.
"Sistem bagi hasilnya, jika panen dapat tiga sak, yang dua sak punya pemilik tambak, sedangkan penggarapnya dapat satu sak," kata Herman (35), warga Kalianget, Kabupaten Sumenep, Madura, saat menyiapkan panen garam bersama anaknya yang masih berusia 4 tahun, di tambak garam di Desa Roomo, Kecamatan Manyar, Minggu (2/11/2014).
Kerja menjadi petani garam sudah dijalaninya berpuluh-puluh tahun, tapi kesejahteraan belum juga dinikmatinya.
"Untuk sekolah anak, untuk makan dan kebutuhan hidup masih pas-pasan. Sebelumnya harga garam Rp 480.000/ton sekarang turun menjadi Rp 330.000/ton.," imbuhnya.
Hal sama juga dialami oleh Nur Hasanah (40), warga Sumenep, Madura, yang telah menjadi buruh petani garam selama 18 tahun.
"Sekarang sudah pisah dengan keluarga. Tapi pekerjaan tetap menjadi pekerta petani garam sebab di Madura tidak punya lahan," kata Nur yang mempunyai tiga anak.
Upah yang diterima Nur juga tidak sebanding dengan kerja kerasnya di bawah terik matahari dimusim kemarau yang panasnya sangat tinggi.
Namun, Nur tetap sabar walaupun lahan pertanian garam kini mulai menyempit sebab banyak dijadikan pergudangan.
"Lahan yang sekarang ini juga sudah dijual tapi masih belum diuruk dijadikan pergudangan," katanya saat di gubuk reot untuk berteduh dan tinggal.
sumber : http://surabaya.tribunnews.com/2014/11/02/petani-garam-hasil-panen-untuk-kebutuhan-hidup-pas-pasan?page=2
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Posting Komentar